Selasa, 03 November 2015

Karakteristik geologi Provinsi Maluku adalah terdiri dari batuan sedimen, batuan metamorfik dan batuan beku dengan penyebaran yang hampir merata di setiap gugus pulau. Hal ini dipengaruhi oleh klasifikasi umur pulau/kepulauan yang terbentuk pada 50-70 juta tahun yang lalu, pada periode Neogeon sampai Paleoceen.
Karakteristik tersebut juga dipengaruhi oleh letak Maluku diantara lempeng bumi Indo-Australia, Pasifik, Laut Filipina dan Laut Banda, sehingga memberikan sebaran beberapa gunung api baik yang masih maupun sudah tidak aktif lagi.

     A.    Maluku Utara
Sebagian besar Provinsi Maluku Utara, terutama bagian tengah dan utara, merupakan daerah pegunungan. Namun secara geologi bukanlah pegunungan yang seragam. Artinya, bahan penyusunnya bervariasi.

1.      Fiografi Pulau Halmahera
a.               Mendala Fisiografi Halmahera Timur
Mendala Halmahera Timur meliputi lengan timur laut, lengantenggara, dan beberapa pulau kecil di sebelah timur Pulau Halmahera.Morfologi mendala ini terdiri dari pegunungan berlereng terjal dan torehan sungai yang dalam, serta sebagian mempunyai morfologi karst. Morfologi pegunungan berlereng terjal merupakan cerminan batuan keras. Jenis batuan penyusun pegunungan ini adalah batuan ultrabasa. Morfologi karst terdapatpada daerah batugamping dengan perbukitan yang relatif rendah dan lerengyang landai.
b.      Mendala fisiografi Halmahera Barat
Mendala Halmahera Barat bagian utara dan lengan selatanHalmahera. Morfologi mendala berupa perbukitan yang tersusun atas batuansedimen, pada batugamping berumur Neogen dan morfologi karst dan dibeberapa tempat terdapat morfologi kasar yang merupakan cerminan batuan gunung api berumur oligosen.
c.               Mendala busur kepulauan gunung api kuarter
Mendala ini meliputi pulau-pulau kecil di sebelah barat pulauHalmahera. Deretan pulau ini membentuk suatu busur kepulauan gunungapi kuart er  Sebagian pulaunya mempunyai kerucut gunung api yang masihaktif.
2.      Stratigrafi
https://html1-f.scribdassets.com/4rssdf1ibko9h0r/images/6-190be74496.jpg
Peta Geologi Halmahera

Urutan formasi batuan pada daerah Halmahera dari tua kemudadapat dilihat pada penjelasan dibawahin:
1  - Satuan Batuan Ultrabasa;terdiri dari serpentinit, piroksenit, dan dunit,umumnya berwarna hitam kehijauan, getas, terbreksikan, mengandun gas besi dan garnierit. Satuan batuan ini dinamakan Formasi Watileo dan hubungannya dengan satuan batuan yang lebih muda berupa bidang ketidak selarasan atau bidang sesar naik.
2    -  Satuan Batuan Beku Basa terdiri dari gabro piroksen, gabro hornblende,dan gabro olivine, tersingkap di dalam komplek batuan ultrabasa dan dinamakan Formasi Wato-Wato.
3    -  Satuan Batuan Intermediete ;terdiri dari batuan diorit kuarsa danhornblende, tersingkap juga dalam batuan ultrabasa.
4   - Formasi Dodaga;berumur kapur, tersusun oleh serpih berselingan denganbatugamping coklat muda dan  sisipan rijang. Selain itu ditutupi pula olehbatuan yang berumur Paleosen Eosen yaitu formasi Dorosag usatuan  konglomerat, dan satuan batu gamping.
5   - Formasi Dorosa  ;terdiri dari batupasir berselingan dengan serpih merah,batugamping. Formasi ini berumur Paleosen-Eosen. Hubungan denganbatuan yang lebih tua (ultrabasa) oleh ketidakselarasan dan sesar naik,tebal +250 meter. Formasi ini idengtik denganF ormasiSa olat. 

6.              Satua n B atu g amping ;berumur Paleosen-Eosen, dipisahkan dengan batuanyang lebih tua (ultrabasa) oleh ketidakselarasan dan dengan yang lebihmuda dari sesar dengan tebal +400 meter.g.
7             Satuan B atua n Konglo m erat;tersusun oleh batuan konglomerat sisipanbatupasir, batulempung, dan batubara. Satuan ini berumur kapur dantebalnya lebih dari 500 meter. Hubungannya dengan batuan yang lebihtua (ultrabasa) dan formasi yang lebih muda (Formas i Ting teng) adalahketidakselarasan sedangkan dengan satuan batugamping hubungannyamenjemari. Setelah pengendapan sejak Eosen akhir-Oligosen Awalselesai, baru terjadi aktifitas gunung api Oligosen atas-Miosen bawah,membentuk bagian-bagian yang disatukan sebagai Formasi Bacan.
              Formasi Bacan ; tersusun atas batuan gunung api berupa lava, breksi, dantufa sisipan konglomerat dan batupasir. Dengan adanya sisipan batupasirmaka dapat diketahui umur Formasi Bacanyaitu oligosen-Miosen Bawah.Dengan batuan yang lebih tua( Formasi Dorosa gu ) dibatasi oleh bidangsesar dan dengan batuan yang lebih muda (Formasi Weda )oleh bidang.
9              Formasi Weda;terdiri dari batupasir berselingan napal, tufa, konglomerat,dan batugamping, berumur Miosen Tengah Awal-Pliosen, bersentuhansecara tidak selaras dengan Formasi Kayasa yang berumur lebih muda danhubungannya secara menjemari dengan Formasi Ting teng.
1       Satuan Konglomerat; berkomponen batuan ultrabasa, basal, rijang, diorit,dan batusabak setebal +100 meter, menutupi batuan ultrabasa secaratidakselaras, diduga berumur Miosen Tengah-Pliosen Awal.
1        Formasi Ting teng ; tersusun oleh batugamping hablur dan batugampingpasiran, sisipan napal dan batupasir, umur Miosen Akhir-Pliosen Awal,tebal +600 meter. Setelah pengendapan FormasI Ting  teng  terjadipengankatan pada kuarter, sebagaimana ditunjukkan oleh batugampingterumbu di pantai daerah lengan timur Halmahera. 
      B.     MALUKU SELATAN
Maluku selatan disusun oleh hasil kegiatan endapan laut dangkal berumur Plio-Plistosen Sampai Holosen. Batuannya terdiri dari batu gamping, napal dan abut lumpur gamping dan endapan alluvium. Urutan batuan dari yang termuda sampai yang tertua adalah sebagai berikut:
      Formasi manumbai
      Formasi wasir 
      Alluvium
Sejarah geologi Maluku selatan dimulai pada zaman miosen bawah yang masih berupa daerah laut, dirincikan dengan pengendapan batu gamping dan napal yang berlangsung sampai miosen tengah.
Pada zaman miosen atas-Pliosen bawah terjadi pengangkatan dan lingkungan  pengendapan berubah menjadi laut dangkal dengan adanya pengendapan batu gamping dan napal yang termasuk formasi manumbai.

Sumber :

Scrid. Geologi Regional Halmahera. <http://www.scribd.com/doc/38149343/Geologi-Regional-Halmahera#scribd> (diakses 16 Oktober 2015)

Peta Geologi Pulau Kalimantan

Geologi Pulau Kalimantan



Pada peta tersebut dapat diketahui jenis batuan dan umur batuan yang ada di pulau Kalimantan
1.      Cekungan yang mencankup batuan sedimen berumur neogen (22,5 – 3,2 ma) dan terdapat pada daerah kutai Mahakam, tarakan dan brunei yang di tunjukan dengan warna kuning.
2.      Cekungan yang mencankup batuan sedimen berumur paleogen (65 – 33 ma) dan terdapat pada deerah Barito, Pembuang, Ketungau Malawi dan bagian utara Kalimantan yang di tunjukan dengan warna merah jambu.
3.      Batuan karbonat berumur tertier (65 – 3,2 ma) terdapat bagian timur laut pulau Kalimantan atau tepat berada pada daerah mangkalihat yang ditunjukan dengan warna biru muda.
4.      Bagian utara pulau ini didominasi oleh Kapur dan Eosen. Untuk Miosen Crocker-Rajang-Embaluh akresi kompleks Ini terutama terdiri dari turbidites yang sedang menumpahkan ke timur laut.
5.      Bagian tenggara pulau Kalimantan daerah meratus dan laut isi terdapat batuan vulkanik dan ofiolit berumur cretaseus atas (100 ma) yang ditunjukan dengan warna hijau.
6.      Batuan vulkanik berumur pliosen, pleistosen dan eosin terdapat dibagian tengah pulau Kalimantan. Ditunjukan dengan warna merah yang dihasilkan dari erupsi gunung api.
7.      Endapan sedimen turbidit, kelompok rijang, zona mélange, dan gabro kompleks terdapat dibagian tengah  pulau Kalimantan yang ditunjukan dengan warna hijau tua.
8.      Dibagian barat pulau Kalimantan terdapat batuan metamorf dan batuan vulkanik berumur triasik – jurasik (230 – 160 ma), batuan sedimen berumur tiriasik bawah – eosin (230 – 44 ma) serta batuan granit dan metamorf berumur perem – triasik (260 – 215 ma) bagian ini ditunjukan dengan warna ungu tua.
9.      Bagian pegunungan schwaner terdapat batuan granit berumur cretaseous bawa – cretaseous atas (141 – 100 ma) dan batuan intrusive tonalid berumur paleozoikum (570 – 251 ma), yang ditunjukan dengan warna ungu muda.
10.  Batuan ultrabasa hanya sebagian kecil terdapat di bagian tenggara dan utara pulau Kalimantan yang ditunjukan dengan kotak hitam.

Kalimantan terdapat empat unit geologi utama, yaitu batuan yang dihubungkan dengan pinggir lempeng, batuan dasar, batuan muda yang mengeras dan tidak mengeras, dan batuan aluvial serta endapan muda yang dangkal. Kompleks batuan dasar diKalimantan di bagian barat dan bagian tengah Kalimantan(termasuk pegunungan Schwaner) mewakili singkapan dasar benua terbesar di Indonesia. Batuan dasar adalah batuan di dasar lapisan stratigrafi yang umumnya lebih tua dari batuan di atasnya. Batuan ini biasanya mengalami metamorfosis bela terkena panas. Hasil metamorfosis batuan ini yang khas adalah batu pualam yang berasal dari batu kapur; bati sekis hijau yang berasal dari batuan vulkanik, batu gneis yang berasal dari batu pasir atau granit. Daerah batuan metamorfosis atau batuan dasar adalah jenis kerak benua yang sering dipengaruhi oleh batuan intrusi muda.
Kompleks batuan dasar Kalimantan terdiri dari atas sekis dan gneis yang tercampur dengan granit dari Era Palaezoikum dan Periode Terseir membentuk daerah kristal yang sangat luas. Batuan yang berasosiasi dengan pinggir lempengKalimantanmencakup opiolit (kerak samudera) dan melange. Potongan lantai samudera (kerak samudera) terdapat beberapa tempat didaratanKalimantan. Potongan-potongan ini dicirikan oleh susunan batuan beku yang padat gelap tipe basa dan ultra basa dengan komponen granit. Endapan batu kersik samudera dan karbonat mungkin juga terdapat deretan batuan ini disebut opiolit. Sebagian pengganti jalur penunjaman, opiolit-opiolit ini terbentuk oleh tubrukan lempeng ketika kerak samudera terperangkap oleh gerakan tektonik lempeng dan tertekan ke pinggir lempeng yang berdekatan dan di sini opiolit-opiolit ini tetap terlindungi. Proses pencuatan ini sering disertai oleh rubuh dan retaknya batuan. Kompleks opiolit di Pulau Laut dan Pegunungan Meratus terbentuk dengan cara ini.
Batuan melange adalah batuan campuran potongan-potongan batu dari berbagai jenis dan ukuran yang berbeda dalam matrik berliat yang terpotong, yang menunjukkan adanya tekanan yang sangat kuat. Potongan-potongan ini ukurannya dapat sangat kecil (cm) dan dapat juga berukuran besar (ratusan meter atau lebih. Malange sering dikaitkan dengan proses pembentukan jalur penunjaman.Melange merupakan perpaduan antara bahan-bahan yang terkikis dari lempeng samudera yang bergerak turun dengan endapan yang berasal dari massa daratan atau lengkung vulkanik di dekatnya. Seluruh massa ini tergesek dan terpotong karena desakan ke bawah dari lempeng yang bergerak turun. Batuan yang terbentuk dengan cara ini berasosiasi dengan desakan keatas lempeng opiolit yang besar di Pegunungan Meratus.
Daerah melangeyang luas di bagian tengah Kalimantan, yaitu yang terbentang di perbatasan antara Kalimantan dan Malaysia, masih belum diketahui dengan baik. Daerah melange ini merupakan zona batuan hancur, sering mengandung potongan-potongan opiolit, tetapi luas dan umur geologinya (akhir mesozoikum sampai periode tersier yang lebih tua) sulit untuk dijelaskan dalam peristilahan lempeng tektonik sederhana (williams dkk, 1989)
Sebagian besar Kalimantan terdiri dari batuan yang keras dan agak keras, termasuk batuan kuarter di semenanjung Sangkulirang dan jajaran pegunungan meratus,batuan vulkanik dan endapan tersier.Kalimantan tidak memiliki gunung api yang aktif seperti yang terdapat di Sumatera dan Jawa, tetapimemiliki daerah batuan vulkanik tua yang kokoh di bagian barat daya dan bagian timur Kalimantan. Hal-hal tersebut merupakan peninggalan sejarah geologis Indonesia yang mencakup berbagai masa kegiatan vulkanik dari 300 juta tahun yang lalu sampai sekarang. Batuan vulkanik terbentuk sebagai hasil magma dari perut bumi yang mencapai permukaan. Ketika magma menjadi dingin dan membeku, dibawah permukaan bumi terbentuk sebagai hasil magma dari perut bumi yang mencapai permukaan. Ketika magma menjadi dingin dan membeku, dibawah permukaan bumi terbentuk batuan intrusi seperti granodiorit. Ditempat batuan vulkanik tua Kalimantanyang telah terkikis, intrusi yang mengandung cadangan emas, semula di bawah gunung api merupakan bagian penting dari proses utama pembentukan mineral seperti emas.
          Suatu kawasan yang luas di bagian tengah, timur dan selatan Kalimantan tersusun dari batuan endapan seperti batu pasir dan batu sabak. Selain formasi yang lebih tua diKalimantan Barat, kebanyakan formasi sedimen relatif muda dan mencakup batu bara dan batuan yang mengandung minyak bumi.
Bagian selatan Kalimantan terutama tersusun dari pasir keras yang renggang dan teras  kerikil yang sering dilapisi oleh timbunan gambut muda yang dangkal dan kipas aluvial yang tertimbun karena luapan sungai Setidaknya diKalimantan terdapat 205 formasi batuan.Formasi batuan di Kalimantan, terdapat banyak patahan diKalimantan Timur dan Barat, sedikit di Kalimantan Selatan dan sangat sedikit diKalimantan Barat. Sebaran patahan yang paling sedikit berada di bagian selatan sampai barat dari PulauKalimantan. Kalimantan Utara membentuk sebagian arah pokok Kepulauan Filipina. Rangkaian pulau Palawan berakhir pada Pegunungan Kinibalu dan rangakaian Pulau Sulu berakhir di daerah Teluk Darvel. Pegunungan Kinibalu yang membujur arah timur lautbarat daya terdiri dari lapisan Pra-tertier yang terlipat tinggi dan lapisan Tertier tang terlipat lebih rendah, yang terganggu oleh granodiorit dari massa batuan massif Kinibalu. Pegunungan di sebelah utara Teluk Darvel yang membujur arah timur barat juga tersusun dari batuan Pretertier dan Tertier bawah. Lapisan Tertier yang lebih muda yang kurang terlipat terdapat pada sisi rangkaian ini serta pada basin di antaranya yang meluas ke arah barat Palang Sulu.
Kalimantan Utara yang komplek ini mempunyai hubungan geologis dengan Kepulauan Filipina, yang dipisahkan oleh massa Neogen yang membentang melintasi pulau itu dari Basin Sulawesi di bagian timur sampai teluk Labuhan di pantai barat laut. Bagian yang bersifat Sunda di Kalimantan terdiri atas teras kontinen berbentuksegitiga (baji) di Kalimantan barat daya yang dibatasi oleh Basin Tertier bagian selatan dan timur Kalimantan pada sisi lain. Hanya bagian barat Kalimantan berupa segitiga yang dibentuk oleh Pegunungan MullerUjung DatukUjung Sambar yang sebenarnya merupakan massa kontinen. Bagian itu pada sisi timurnya terdiri atas Basin Melawi dengan fasies air payau Tertier Bawah. Menurut Fen (1933),hanya Kalimantan barat daya yang boleh disebut daratan tua (Alte Rumpfebene).
Teras kontinen ini membentuk bagian massa daratan Sunda tua. Batas utaranya dibentuk oleh kelompok pegunungan yang membentang dari Ujung Datuk melalui gunung Niut dan Plato Madi ke arah Pegunungan Muller. Tepi selatan dibentuk oleh Pegunungan Schwaner dan pegunungan rendah yang membentang ke pantai selatan. Kedua jalur batuan selanjutnya ditandai dengan intrusi volkanis dan ekstrusi Tertier.
Jalur volkan Tertier ini bertemu di Pegunungan Muller dan selanjutnya membentang ke arah timur laut melalui Batuayan (1652 m) ke Kongkemal (2053 m) dan berakhir pada Pegunungan Datong yang rendah di sebelah barat Tarakan. Di dekat ujung utara massa kontinen Kalimantan Barat, jalur basalt Kuarter terdapat di sekeliling Gunung Niut yang tua dan sepanjang ujung barat daya terdapat beberapa volkan Kuarter yang telah padam, seperti Murai, Seluh, dan Bawang Aso. Dari Kongkemal sebuah pegunungan yang kompleks bercabang ke arah timur menuju Niapa (1275 m) dan dari tempat tersebut basement kompleks merosot dengan teratur da bawah lapisan Tertier semenanjung Mangkaliat.
Massa tanah Sunda itu menyusup ke Kalimantan seperti sebuh baji besar yang lebar dasarnya 600 km, sepanjang pantai barat daya antara Ujung Datuk dan Ujung Sambar, membentang ke timur laut sampai pulau itu, serta berangsur angsur menyempit. Bagian timur laut Pegunungan Schwaner mulai merosot di bawah lapisan marin Tertier, tetapi kemudian dapat diikuti lebih jauh ke arah timur laut sampai Kongkemal, kemudian meruncing keluar ke pegunungan Latong di Kalimantan timur laut. Baji batuan Pre Tertier ini membentuk kerangka struktural Kalimantan Sunda.
Di sebelah barat lautnya terdapat pegunungan besar setinggi 10002000 m yang cekung ke arah barat laut dan terdiri dari Pegunungan Kapuas Hulu dan Iran. Rangkaian pegunungan ini tersusun dari batuan marin PreTertier dan Tertier Bawah yang terlipat secara intensif serta menekan ke arah barat laut.rangkaian tersebut dipisahkan oleh Lembah Rejang, dari sebuah punggungan (Igir Ularbulu) yang tingginya berangsur angsur berkurang dari 1000 m, yang juga cekung ke arah barat laut. Pegunungan ini merupakan antiklinorium yang sebagian besar terdiri dari lapisan Tertier, dipisahkan dari pantai Serawak dan Brunei oleh jalur agak sempit dari tanah pegunungan rendah. Pegunungan Kapuas Hulu Iran dan Punggungan Ularbulu merupakan rangkaian pegunungan .Tertier yang termasuk kedalam Sistem Pegunungan Sunda. Di sebelah tenggara dan timur kerangka struktural Kalimantan, basement kompleks Pretertiermenghilang di bawah basin bagian selatan dan timur dan di tempat itu terjadi pengendapanribuan meter sidimen Tertier.
Basement kompleks itu muncul lagi ke arah pantai timur, merosot membentuk palung di Selat Makasar dan muncul lagi sebagai Pulau Laut dan Sebukku di luar sudut tenggara Kalimantan. Pada bagian tepi ini basin Tertier Kalimantan tenggara dan timur berupa pegunungan membujur barat dayatimur laut. Pegunungan tersebut berawal di Meratus di bagian selatan, terdiri dari batuanPretertier dan berhubungan dengan antiklinorium Samarinda. Dari antiklinorium Samarinda, pada bagian yang terpotong oleh sungai anteseden .Mahakam, sumbu itu muncul lagi ke arah utara ke ambang melintang yang dibentuk oleh Sistem KongkemalNiapaMangkaliatRangkaian Pegunungan Meratus Samarinda merupakan hasil orogenesis Tertier pada sisi tenggara kerangka struktural kalimantan. Orogenesis itu membentuk bagian yang berlawanan dari rangkaian pegunungan Tertier Serawak pada sisi barat lautnya.

Referensi:

Irawan, Dedi. 2011. Rangkuman geologi pulau kalimantan barat,tengah,timur,dan selatan. <http://dediirawan66.blogspot.co.id/2012/12/rangkuman-geologi-pulau-kalimantan.html> (diakses pada tanggal 30 oktober 2015)

Peta Geologi Pulau Jawa

GEOLOGI PULAU JAWA
A.    Geologi Jawa Barat


 
            Pada peta geologi jawa barat diatas dapat diketahui jenis batuannya, adapun jenis batuannya yaitu sebagai berikut :
1.      Endapan Alluvial, meliputi disepanjang bagian utara jawa barat yang ditunjukan dengan warna putih polos.
2.      Endapan vulkanik, (Granit, granodiorit,diorid) berumur pleistosen meliputi bagian utara tengah jawa barat yang ditunjukan dengan symbol bulatan.
3.      Endapan sedimen, Pada tersier awal (peleosen) terbentuk kompleks malange pada barat daya jawa barat (teluk Cileutuh) yang diduga sebagai bagian zona penunjaman kearah jawa tengah, yang ditunjukan dengan garis-garis fertikal jarang.
4.      Endapan sedimen, berumur miosen mencangkup bagian utara jawa barat yang ditunjukan dengan garis-garis fertikal rapat.
5.      Endapan batu gamping, berumur  miosen terdapat dibagian tenggara jawa barat yang ditunjukan dengan garis batu bata.
6.      Endapan vulkanik, berumur miosen mencangkup bagian tengah jawa barat yang ditunjukan dengan tanda benar.
7.      Endapan sedimen, berumur paleogen hanya terdapat sebahagian kecil di pulau jawa
8.      Endapan vulkanik, berumur kuater mencangkup bagian tengah jawa barat yang ditunjukan dengan tanda benar.
Pada jaman pra tersier jawa barat merupakan kompleks malange yaitu zona percampuran antara batuan kerak samudera dengan batuan kerak benua terdiri dari batuan metamorf, vukanik, dan batuan beku, yang diketahui hanya dari data pemboran dibagian utara laut jawa barat.
            Pada tersier awal (peleosen) terbentuk kompleks malange pada barat daya jawa barat (teluk Cileutuh) yang diduga sebagai bagian zona penunjaman kearah jawa tengah. Disebelah utara jawa barat mulai diendapkan produk hasil letusan gunung api yang terendapkan sebagai formasi jati barang sementara. Pada kala eosen, jawa barat perada pada kondisi benua, yang  ditandai dengan ketidakselarasan, tetapi rajamadala-sukabumi merupakan areal terestial fluvial dimana hadir formasi gunung walat  yang mengisi depresi interarc basin.
            Pada oligeson awal ditandai dengan ketidaklarasan gunung walat berupa konglomerat batupasir kwarsa, yang menunjukan suatu tektonik uplift diseluruh daerah. Pada kala oligosen akhir diawali dengan transgesi marin, yang terbentuk dari selatan timur (SE) kearah utara- timur (NE). Bogr through berkembang ditengah jawa barat off-shelf platform diselatan dari sunda shelf di utara. Pada tepi utara platform ini reef formasi rajamandala trbentuk yang didahului oleh pengendapan serpi karbonatan formasi batuasih. Kala juga ini di endapkan formasi gantar pada bagian utara yang berupa terumbu karbonat dan berlansung selama siklus erosi dan trangesi yang berulang kali, pada waktu yang sama terjadi pengangkatan sampai miosen awal bersamaan dengan aktivitas vulkanik yang menghasilkan struktur lipatan dan sesar dengan arah barat daya timur laut.
            Pada kala meosen yaitu setelah formasi rajamandala terbentuk maka pada cekungan bogor diisi oleh endapan turbidit dan volcanic debris. Sementara pada bagian selatan diendapkan formasi jampang dan cimandiri. Disebelah utara diendapkan oleh formasi parigi dan formasi subang. Pengangkatan kala meosen tengah diikuti oleh perlipatan dan pensesaran berarah pada barat timur. Poliosen akhir mengalami pengangkatan yang diikuti oleh perlipatan lemah,zona cimandiri mengalami pensesaran mendatar. Sementara itu berlansung pengendapan formasi bentang.
            Pada zaman kuarter peristiwa geologi banyak diwarnai oleh aktivitas vulkanisme sehingga pada seluruh permukaan tertutupi oleh produk gunung api. Daerah bandung mengalami penyumbatan sungai citarum oleh lava erupsi tangkuban perahu sehingga tergenang oleh air dan terbentuk danau bandung. Selama tergenang maka daerah bandung dan sekitarnya padalarang dan cimahi banyak terbentuk endapan endapan danau. Sampai akhirnya danau bandung bocor didaerah gamping sang hyang tikoro dan selama itu terendapkan lagi oleh produk produk gunung api dari tangkuban perahu.
Struktur regional jawa barat memiliki empat pola struktur akibat adanya empat aktifitas tektonik yaitu : struktur perlipatan dan pensesaran yang mempunyai arah barat ke timur. Diakibatkan oleh pengangkatan yang berlangsung selama miosen tengah struktur perlipatan dan pensesaran yang mempunyai arah sekitar N 450E. struktur ini diakibatkan oleh pengangkatan yang disertai oleh vulkanisme pada oligosen akhir sampai miosen awal.
Struktur disebelah timur jawa barat mempunyai arah sekitar N 3150E, membentang kebarat utara bandung berarah timur-barat, semakin kebarat maka struktur berarah umum barat daya. Struktur ini diakibatkan oleh aktivitas tektonik yang berlansung selama kuarter. Sementara itu dataran Jakarta mempunyai struktur dengan arah utara-selatan. Di jawa barat derah tengah arah stuktur sekitar N 750E yang ditunjukan oleh tinggian rajamandala.
Pengangkatan pada pliosen akhir yang diikuti oleh perlipatan lemah. Pada formasi bentang sehingga batuan pada formasi ini relative memiliki  kemiringan lapisan yang landai, selanjutnya diikuti dengan kegiatan tektonik sehinggan zona cimandiri mengalami pensesaran mendatar yang mempunyai arah sekitar N 450E memotong strukur terdahulu.

B.    
Geologi Jawa Tengah dan Timur 



            Berdasarkan peta diatas, geologi jawa tengah dan jawa timur  dibagi menjadi empat bagian yaitu pegunungan bagian selatan, kendeng basin, modem Arc, dan paparan sunda.
1.      Pegunungan bagian selatan
Di pegunungan bagian selatan jawa terdapat jenis batuan yang diklasifikasikan berdasarkan skala waktu geologi meliputi sebagai berikut :
a)      Batuan intrusiv, termaksuk batuan paling muda yang ditunjukan dengan warna ungu tua.
b)      Batuan carbonat berumur miosen tengah yang ditunjukan dengan warna biru muda
c)      Batuan vulkanik berumur miosen tengah yang ditunjukan dengan warna unggu muda
d)     Batuan vulkanik berumur oligo – miosen yang ditunjukan dengan warna  ungu paling pudar
e)      Batuan sedimen berumur eosin yang ditunjukan dengan warna hijau
f)       Batuan dasar berumur createseus dan older
2.      Kendeng Basin
Cekungan kendeng berada pada bagian tengah jawa, pada cekungan ini batuan paling dominan yaitu batuan karbonat  yang ditunjukan dengan warna biru muda
3.      Modem Arc, terdapat sunda arc yang ditunjukan dengan warna silver. Jenis batuan di bagian ini yaitu batuan vulkanik, dan terdapat gunung api aktif yang ditunjukan dengan segi tiga merah.
4.      Paparan sunda
Pada bagian paparan sunda ini terdapat jenis batuan yang diklasifikasikan berdasarkan skala waktu geologi yaitu sebagai berikut :
a)      Endapan alluvial dan jajaran vulkanik, yang ditunjukan dengan warnah putih kekuningan
b)      Batuan karbonat, berumur pliosen yang ditunjukan dengan warna kuning.
c)      Batuan karbonat, yang ditunjukan dengan warna biru muda
d)     Paparan yang menutupi batuan karbonat yang ditunjukan dengan warna hijau

C.    Struktur Geologi Regional Pulau Jawa
Selama zaman Tersier di Pulau Jawa telah terjadi tiga periode tektonik yang telah membentuk lipatan dan zona-zona sesar yang umumnya mencerminkan gaya kompresi regional berarah Utara-Selatan. Ketiga  periode tektonik tersebut adalah :
1.Periode Tektonik Miosen Atas (Mio-Pliosen)
2.Periode Tektonik Pliosen Atas (Plio-Plistosen)
3.Tektonik Holosen.

1.      Periode Tektonik Miosen Atas (Mio-Pliosen)
Periode Tektonik Miosen Atas (Mio-Pliosen) dimulai dengan  pengangkatan dan perlipatan sampai tersesarkannya batuan sedimen Paleogen dan  Neogen. Perlipatan yang terjadi berarah relatif barat-timur, sedangkan yang  berarah timurlaut-baratdaya dan baratlaut-tenggara hanya sebagian. Sedangkan sesar yang terjadi adalah sesar naik, sesar sesar geser-jurus, dan sesar normal. Sesar naik di temukan di daerah barat dan timur daerah ini, dan berarah hampir  barat-timur, dengan bagian selatan relatif naik. Kedua-duanya terpotong oleh sesar geser. Sesar geser-jurus yang terdapat di daerah ini berarah hampir  baratlaut-tenggara, timurlaut-baratdaya, dan utara-selatan. Jenis sesar ini ada yang menganan dan ada pula yang mengiri. Sesar geser-jurus ini memotong struktur lipatan dan diduga terjadi sesudah perlipatan. Sesar normal yang terjadi di daerah ini berarah barat-timur dan hampir utara-selatan, dan terjadi setelah  perlipatan. Di daerah selatan Pegunungan Serayu terjadi suatu periode transgresi yang diikuti oleh revolusi tektogenetik sekunder. Periode tektonik ini berkembang hingga Pliosen, dan menyebabkan penurunan di beberapa tempat yang disertai aktivitas vulkanik.

2.      Periode Tektonik Pliosen Atas (Plio-Plistosen)
Periode Tektonik Pliosen Atas (Plio-Plistosen) merupakan kelanjutan dari  periode tektonik sebelumnya, yang juga disertai dengan aktivitas vulkanik, yang  penyebaran endapan-endapannya cukup luas, dan umumnya disebut Endapan Vulkanik Kuarter.

3.      Periode Tektonik Holosen
Periode Tektonik Holosen disebut juga dengan Tektonik Gravitasi, yang menghasilkan adanya gaya kompresi ke bawah akibat beban yang sangat besar, yang dihasilkan oleh endapan vulkanik selama Kala Plio-Plistosen. Hal tersebut menyebabkan berlangsungnya keseimbangan isostasi secara lebih aktif terhadap  blok sesar yang telah terbentuk sebelumnya, bahkan sesar-sesar normal tipe Horst dan graben ataupun sesar bongkah atau sesar menangga dapat saja terjadi. Sesar-sesar menangga yang terjadi pada periode inidapat dikenal sebagai gawir-gawir sesar yang mempunyai ketinggian ratusan meter dan menoreh kawah atau kaldera gunung api muda, seperti gawir sesar di Gunung Beser, dan gawir sesar pada kaldera Gunung Watubela. Struktur geologi di Pulau Jawa umumnya mempunyai arah baratlaut-tenggara ,sesuai dengan konsep.

Referensi:
Sonearth, Kohyar de, (2010). Geologi Pulau Jawa. Universitas Jenderal Soedirman.
Noor, Djauhari. (2012). Pengantar Geologi. Bogor: Universitas Pakuan.
Zaenal, Hilmi Putra. (2015). Geologi Indonesia Pulau Jawa.
<http://mochhim23.blogspot.co.id/2015/04/geologi-indonesia-pulau-jawa.html>

(diposting tanggal 7 oktober 2015)GEOLOGI PULAU JAWA

Peta Geologi Pulau Sumatra

A. PETA GEOLOGI PULAU SUMATERA






















Pada peta geologi regional Sumatra diatas menggambarkan jenis-jenis batuan berdasarkan umur batuan atau sejarah terbentuknya dalam skala waktu geologi. Pada peta tersebut terdapat batuan sedimen, batuan vulkanik, batuan metamorf, dan batuan intrusive atau batuan terobosan.
1.      Batuan sedimen
Batuan sedimen pada peta geologi Sumatera dikalsifikasikan berdasarkan umur dalam skala waktu geologi mulai dari  zaman :
    a)    Zaman Holocene ( 10 ribu tahun terakhir) – Pleistocene (11 ribu tahun yang lalu) untuk jenis             batuan ini hampir mencangkup seluruh pulau Sumatera terutama bagian timur Sumatera yang             ditunjukan dengan warna kuning.
    b)  Zaman Pliocene ( 13 - 2 ma) – eocen ( 58 - 40 ma) setiap provinsi di sumatera dan pulau-pulau           kecil dibagian barat sumatera terdapat jenis batuan ini yang ditunjukan dengan warna hijau tua.
    c)  Zaman lower Cretaceous (145 - 466 ma) – upper Jurassic (199,6 ma) meliputi hanya sebagian kecil     pulau sumatera yang ditunjukan dengan warna biru muda.
    d) Triassic yang  berkisar 250 – 200 juta tahun yang lalu, meliputi pulau pulau kecil dibagian timur        Sumatera yang dijuluki pulau timah yang ditunjukan dengan warna silver.

2.      Batuan vulkanik
Berdasarkan skala waktu geologi Batuan vulkanik terbentuk di zaman :
    a)  Holocene ( 10 ribu tahun terakhir) – Zaman Pleistocene (11 ribu tahun yang lalu) hanya terdapat         sebagian kecil pulau sumatera yang ditunjukan dengan warna orange.
    b)  Pliocene ( 13 - 2 ma) – Eocen ( 58 - 40 ma) meliputi disepanjang bukit barisan pulau sumatera yang   ditunjukan dengan warna pink.

3.      Batuan intrusive
Pada peta regional Sumatera batuan intrusive hanya sebagian kecil di pulau sumatera, tetapi menerobos hampir seluruh litologi yang ada pada pulau Sumatera baik itu batuan Sedimen maupun batuan vulkanik atau batuan gunung api. Batuan intrusive ini berumur dari zaman:
    a)      Pliocene (13-2 ma) - Eocene (58-40 ma)
    b)      Late cretaceous (100,5 - 66 ma)
    c)      mid Jurassic (176 - 161 ma)
    d)     late triassic (237 - 201 ma) - early Jurassic (199,6 - 175,6 ma)
    e)      Permian (280 - 320 ma),

4.      Batuan metamorf
Untuk batuan metamorf dizona Sumatera bagian tengah terdapat satuan batuan skis dan gneiss. Satuan batuan ini lebih tua dibandingkan batuan intrusive. Jenis batuan ini hanya sebagian kecil yang ditunjukan dengan warna ungu.
Sumatera blok barat terdapat batuan sedimen yang berumur Permian awal yang meliputi daerah palepat, Silungkang, dan Mengkarang yang diunjukan dengan warna hijau tua. Dan batuan sedimen yang berumur permaian bawah – carboniferous awal yang meliputi Kluet dan Kuantam. Daerah Sumatera blok timur terdapat endapan alluvial yang berumur Permian awal – Devonian akhir , yang berdasarkan perkiraan atau interpertasi regional pulau Sumatera. Endapan alluvial tersebut terdapat pada daerah Bohorok dan Mentulu yang ditunjukan dengan warna coklat.
Untuk pulau timah berdasarkan peta tersebut diinterpretasikan batuanya berumur dari zaman Triassic – creataseous, yang meliputi daerah Bintan dan Tempilang atau kepulauan Bangka Belitung, lingga, dan Riu yang ditujukan dengan warna silver.

Referensi:
Crow. M. J. dan Barber A. J. 2015. Simplified Geological ma Of Sumatra 
<http://mem.lyellcollection.org>(diakses pada tanggal 22 September 2015)